Beranda Budaya Pangku, Film Indonesia yang Tembus Cannes Film Festival

Pangku, Film Indonesia yang Tembus Cannes Film Festival

2
0
Pangku, Film Indonesia yang Tembus Cannes Film Festival



Pangku, Film Indonesia yang Tembus Cannes Film Festival

Harianjogja.com, JOGJA—Film Pangku (On Your Lap) terpilih menjadi salah satu dari lima proyek film yang memenangi Hong Kong Asia Film (HAF) ke-23 Goes to Cannes Program. Pangku akan dipresentasikan di Cannes Film Festival 2025 di Prancis, yang akan digelar pada Mei.

Film ini juga menjadi debut aktor Reza Rahadian sebagai sutradara film cerita panjang. Pangku mengangkat kisah tentang perjuangan perempuan. “Ide film ini sebenarnya sudah mengendap sejak lama. Ketika akhirnya bertemu dengan orang-orang tepat dan berbakat untuk berkolaborasi, saya pikir saatnya ide ini terwujud,” kata Reza, belum lama ini, dikutip dari Antara.

Reza mengatakan, film pertamanya tersebut berkisah tentang cinta, hubungan antar manusia, serta perjuangan hidup. Ia menjelaskan, film bergenre drama ini mengangkat kisah perjuangan hidup seorang perempuan di Pantai Utara Jawa. Menampilkan deretan pemain, antara lain Claresta Taufan, Devano Danendra, Fedi Nuril, Shakeel Fauzi, dan Christine Hakim.
Sebelumnya, Reza juga pernah menyutradarai sebuah film pendek berjudul “Sebelah” (2011) yang memenangkan penghargaan film pendek terbaik di LA Lights Movie Award 2012, dan terlibat dalam sebuah film antologi berjudul “Wanita Tetap Wanita” (2013).

Pada tahun 2020, ia juga pernah menyutradarai miniseri berjudul “Sementara, Selamanya”. Film “Pangku” diproduksi oleh Gambar Gerak, sebuah rumah produksi yang diinisiasi oleh Reza Rahadian dan Arya Ibrahim sejak tahun 2020.
Sejak diinisiasi, film cerita panjang telah menjadi salah satu agenda produksi Gambar Gerak, dan “Pangku” akan menjadi produksi film cerita panjang perdananya. Film ini juga didukung oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Kementerian Kebudayaan RI.

Pada kesempatan yang sama, Produser sekaligus salah satu pendiri rumah produksi Gambar Gerak, Arya Ibrahim, menyampaikan rasa antusiasnya dengan produksi ini setelah perjalanan yang panjang. Ia mengatakan, film Pangku dipilih sebagai langkah awal karena kisahnya yang sangat personal, mencerminkan berbagai realitas yang jarang terlihat tetapi sangat relevan.

Film Pangku direncanakan akan tayang pada tahun 2025 di bioskop tanah air. “Menjelang syuting film, saya mewakili Gambar Gerak beserta seluruh pemain dan kru yang terlibat memohon doanya agar diberi kelancaran,” kata Arya Ibrahim.

Film Pangku Tegaskan Daya Saing Film Indonesia

Keberhasilan film Pangku, sebagai salah satu proyek film yang memenangkan Hong Kong Asia Film (HAF) ke-23 Goes to Cannes, dianggap mampu menegaskan kemampuan daya saing industri film Indonesia di kancah global.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengatakan terpilihnya Pangku dalam program HAF Goes to Cannes menunjukkan kualitas dan kreativitas sineas Indonesia yang mampu bersaing di kancah internasional. HAF merupakan bagian dari HKIFF Industry Project Market yang dikenal sebagai platform pembiayaan film terkemuka di Asia.

Program HAF Goes to Cannes memilih proyek-proyek unggulan untuk dipresentasikan di Marcelino selama Festival Film Cannes dan memberi kesempatan sineas untuk bekerja sama mitra distribusi global.

Film ini terinspirasi dari tradisi kopi pangku di wilayah Pantura yang menampilkan perspektif tentang dinamika sosial dengan pendekatan artistik yang kuat. “Terima kasih kepada insan perfilman Indonesia yang telah membawa nama bangsa ke panggung dunia. Partisipasi 14 eksibitor Indonesia di Hong Kong Filmart 2025 adalah langkah nyata dalam memperluas jaringan dan membuka peluang global bagi film Indonesia,” kata Fadli.

Ia mengimbuhkan, “Dan hari ini, kita kembali mencatat prestasi dengan terpilihnya ‘Pangku’ dalam program HAF Goes to Cannes. Selamat bagi Reza dan tim Gambar Gerak atas prestasi yang membanggakan ini”.

Kehadiran Indonesia di Hong Kong Filmart 2025 menjadi bukti bahwa industri film nasional semakin diperhitungkan sebagai pemain utama di kawasan Asia, sekaligus membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas dengan industri perfilman dunia.

Potensi Besar Perfilman Indonesia

Potensi besar perfilman Indonesia tidak hanya pada karya, tapi juga penontonnya. Penonton bioskop film Indonesia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada tahun 2024, data hingga September, ada lebih dari 60 juta penonton yang pergi ke bioskop di Indonesia.

Menurut Direktur Perfilman, Musik dan Media Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Mahendra Budaya, angka penonton tersebut merupakan yang tertinggi sejak 98 tahun lalu, atau pada 1926.
Dalam uraian data dari Kementerian Kebudayaan, jumlah penonton film impor jauh di bawah jumlah tersebut, yakni sebesar 35 juta penonton. “Pertama kali dalam sejarah, film Indonesia tembus 60 juta penonton,” kata Mahendra, beberapa waktu lalu.

Adapun detail jumlah penonton film Indonesia hingga September 2024 yaitu 60.158.548. “Terima kasih atas antusiasme masyarakat yang sudah menonton film-film Indonesia secara langsung di bioskop. Mari terus dukung perfilman Indonesia!” katanya.

Film lokal terlaris sepanjang 2024 adalah “Agak Laen”. Film tersebut meraih 9,1 juta penonton. Sementara film impor terlaris yaitu “How to Make Million Before Grandma Dies” dengan 3,5 juta penonton.

Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Dessy Ruhati, berharap raihan penonton ini dapat menarik investor untuk meningkatkan nilai subsektor ekonomi kreatif Indonesia. “Daya tarik subsektor ini sangat kuat. Kami berharap tenaga kerja pada animasi, film, video terus bertumbuh,” kata Dessy.

Persebaran bioskop

Pengamat sekaligus peneliti film, Hikmat Darmawan, mengatakan industri perfilman Indonesia sudah berangsur-angsur pulih setelah dilanda pandemi Covid-19. Jumlah penonton film di bioskop pun sudah kembali ke pola semula. Namun masih ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Salah satu yang paling krusial adalah pemerataan persebaran bioskop di seluruh negeri.

Saat ini, 60% bioskop terkonsentrasi di Jabodetabek, sebuah ketimpangan yang mencolok mengingat luas dan banyaknya kota dan kabupaten di Indonesia. Kondisi ini membuat jumlah layar bioskop menjadi terbatas dan film-film Indonesia yang diproduksi mendapatkan jatah tayang yang minim. “Karena jumlah layar sedikit, jumlah film yang diproduksi tidak dapat tempat karena terlalu banyak (film), dan daya tampung (bioskop) tidak cukup,” kata Hikmat.

Hikmat, yang juga pernah menjadi Wakil Ketua 1 Dewan Kesenian Jakarta periode 2021-2023 itu, mengatakan potensi penonton film bioskop Indonesia sebenarnya bisa menembus 80 juta penonton apabila masalah pemerataan bioskop bisa terselesaikan. Proporsi penonton film di Tanah Air saat ini tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia.

Kondisi tersebut menyebabkan film-film Indonesia, meskipun populer, hanya mampu meraih paling banyak 10 juta penonton. “Indonesia kan penduduknya 260 juta, tetapi kenapa film terbanyak yang ditonton itu cuma oleh 10 juta penonton Indonesia? Kenapa? Karena bioskop belum tersebar. 60% masih di Jabodetabek. Itu pun masih bisa digarap lebih banyak lagi,” katanya.

Proporsi jumlah bioskop dan penonton di Indonesia saat ini masih terlalu sedikit. Artinya, kue bisnis layar lebar ini masih bisa diperbesar. Jumlah layar bioskop di Indonesia saat ini mengalami penurunan drastis dibandingkan dengan era 80-an, yang bisa mencapai 6.600 layar.

“Sekarang kan menuju 2.500 layar saja ngos-ngosan. Dulu 6.600 layar berarti di atas kertas seluruh kabupaten kita ada bioskopnya. Artinya ada lapis bioskop juga, bioskop kelas A, B, C. Sekarang kan seolah-olah bioskop itu harus kelas A semua, harus mewah,” kata Hikmat.

Infografis Film Pangku

Sinopsis:

Pangku mengangkat tradisi kopi pangku di pesisir Pantura. Berkisah tentang perjuangan seorang perempuan bernama Sartika, yang tengah mengandung dan meninggalkan kota asalnya demi masa depan lebih baik. Di Pantura, ia bertemu Bu Maya, pemilik kedai “Kopi Pangku” yang menawarkannya perlindungan.
Sutradara: Reza Rahadian
Penulis Skenario: Felix K Nesi dan Reza Rahadian
Produser: Arya Ibrahim
Deretan pemain: Claresta Taufan, Fedi Nuril, Christine Hakim, Devano Danendra, dan Shakeel Aisy.

Daftar Film dan Serial Indonesia yang Berprestasi Secara Global:

Dua Garis Biru
Tahun 2020
Prestasi Film Asing Terbaik
Festival Film Internasional Golden Gate

Salinan cahaya
Tahun 2021
Film Terbaik
Festival Film Internasional Busan

Sebelumnya, Sekarang & Lalu (Nana)
Tahun 2022
Film Terbaik
Asia Pacific Screen Awards 2022

Budi Pekerti 2023
Film fitur internasional terbaik
Festival Film Internasional Santa Barbara (SBIFF) 2024,

Gadis Kretek
Tahun 2024
Miniseri terbaik
Seoul International Drama Awards 2024
Sutradara Terbaik
Asian Content Awards (ACA) dan Busan International Film Festival 2024

Cek Berita dan Artikel yang lain di Berita Google



Source link

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini